31/01/2013




“…Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya sudah terbuka, berkatalah penjaga-penjaganya, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian, berbahagialah kalian! Maka masukilah surga ini sedang kalian kekal didalamnya’.”(QS. Az-Zumar: 73)

Bagi orang mukmin yang bertakwa disediakan oleh Allah swt. yang Maha Besar sebuah surga berisi segala bentuk kenikmatan. Surga dan kenikmatan yang ada di dalamnya masyhur dikenal sebagai sesuatu yang tak pernah dilihat oleh mata, didengar telinga atau terlintas di hati manusia seperti kita. Suatu tempat yang sangat spesial, unik dan otentik, yang merupakan rahasia Allah atas makhluk-Nya yang bertakwa.

Sebagaimana diberitakan al-Qur’an, surga memiliki pintu-pintu. Lewat pintu-pintu itulah orang mukmin dari zaman awal hingga zaman akhir, juga Nabi Muhammad saw. beserta umatnya akan berbondong-bondong masuk. Allah berfirman dalam surat Shad, ayat 49-50, “Ini adalah kehormatan (bagi mereka). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik, (yaitu) surga 'Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka.”

Al-Qur’an menceritakan bahwa pintu-pintu surga akan dibuka bilamana orang-orang mukmin telah sampai di sana. Malaikat-malaikat yang menjaganya akan menyambut mereka seraya menyerukan salam kesejahteraan dan kedamaian bagi orang-orang yang memang berhak atas nikmat surga itu.

“Kesejahteraan dilimpahkan atas kalian, berbahagialah kalian! Maka masukilah surga ini sedang kalian kekal di dalamnya,” ujar para malaikat sebagaimana termaktub dalam ayat ke-73, surat Az-Zumar di atas.

Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, kata “pintu-pintu yang terbuka” memiliki makna bahwa pintu surga adalah pintu yang membuat penghuninya dapat leluasa masuk dengan lancar ke dalamnya. Mereka juga dapat mondar-mandir di dalamnya. Lewat pintu itu pula, malaikat-malaikat bebas mendatangi mereka dengan membawa hadiah dan rezeki dari Allah swt. dan apa saja yang menggembirakan mereka. Surat Ar-Ra’d ayat ke 24 menyebutkan bahwa para malaikat menyabangi penghuni surga lewat pintu-pintu yang terbuka itu seraya menyerukan salam yang sangat indah, “Salamun Alaikum bima shabartum.”

Demikianlah pintu-pintu surga yang terbuka yang melambangkan keridhaan Allah ketika menyambut makhluk-Nya yang ikhlas, yang menghamba pada-Nya sebagaimana janji yang ditetapkan-Nya. Lalu apa sajakah pintu-pintu surga itu?

Delapan Pintu dan Amalan Khusus

Penjelasan terperinci mengenai pintu-pintu surga tertuang dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah melalui periwayatan Imam Bukhari dan Muslim.

Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa membelanjakan sebagian harta kekayaannya di jalan Allah swt., ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga dan surga memiliki delapan buah pintu. Orang yang mengerjakan shalat (secara teratur dan benar) akan dipanggil dari pintu shalat, orang yang sering bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah, orang yang berjihad akan dipanggil dari pintu jihad dan orang yang sering berpuasa secara teratur akan dipanggil dari pintu puasa.”

Abu Bakar lalu bertanya, “Adakah orang yang akan dipanggil dari semua pintu itu, ya Rasulullah?”

Nabi menjawab, “Ada dan kuharap kau salah satu dari mereka.”

Bisa ditarik kesimpulan bahwa di surga ada pintu-pintu khusus yang akan dimasuki orang yang memiliki amal khusus dan menonjol dalam hidupnya. Yang bagus dari segi shalat, meliputi kekhusyuan, kesempurnaan waktu dan rukunnya serta sering melakukan shalat sunnah, maka dia akan memasuki surga lewat pintu shalat. Demikian pula yang ahli sedekah akan masuk lewat pintu sedekah. Seperti juga yang berjihad dan berpuasa. Untuk pintu puasa, Nabi menambahkan keterangan lewat sabdanya:

"Di dalam surga terdapat delapan pintu, salah satunya sebuah pintu yang disebut dengan "ar-Rayyan". Tidak memasuki pintu tersebut kecuali orang-orang yang berpuasa, dan apabila mereka sudah memasukinya, pintu itu akan dikunci lagi, sehingga tidak ada yang masuk lewatnya." Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim dari Sahal bin Sa’ad.

Kesimpulan yang juga tampak jelas dari hadits-hadits shahih ini adalah bilangan pintu surga yang berjumlah delapan. Inilah pendapat yang masyhur di kalangan ulama salaf. Empat pintu di antaranya telah disebut Nabi saw. Lalu apakah empat pintu yang lain?

Imam Al-Qurthubi dalam Rahasia Kematian Alam Akhirat dan kiamat, mengutip ucapan Qadhi Iyadh yang berujar, “Dalam hadits tadi, yang disebutkan oleh Muslim baru empat pintu saja. Selebihnya adalah pintu taubat, pintu orang-orang yang menahan amarah, pintu orang-orang yang ridha, dan pintu kanan tempat orang yang masuk surga tanpa hisab.”

Mengenai pintu terakhir yang disebut Qadhi Iyadh, yakni pintu tempat masuk orang yang meraih surga tanpa menjalani hisab terlebih dahulu mendapat konfirmasinya dari hadits shahih Bukhari-Muslim tentang syafaat. Hadits itu dari Abu Hurairah yang berkata bahwa Nabi saw. bersabda, “Allah berfirman, ‘Hai Muhammad, bawalah masuk orang-orang dari umatmu yang tidak perlu dihisab ke dalam surga melalui pintu dibagian kanan surga, sedangkan yang lain dapat masuk dari pintu-pintu yang lain sebagaimana yang dilakukan oleh para penghuni surga lainnya’.”

Sedang mengenai kepastian pintu-pintu yang lain tak didapat keterangan lugasnya. Namun, para ulama meyakini bahwa amal kebajikan manusialah yang menjadi alasan bagi kekhususan pintu-pintu surga itu. Kebajikan itulah hal utama yang membuat seseorang akan masuk surga lewat satu pintu atau dapat melalui pintu yang manapun yang dia kehendaki karena amal perbuatannya memadai untuk lewat di semua pintu surga yang telah disediakan Allah. Beberapa ulama lain berpendapat bahwa pintu surga sebenarnya berjumlah banyak.

Luas dan Ciri Pintu Surga

Sebuah hadits dari Abu Hurairah memberitakan mengenai luasnya pintu surga. Hadits yang merupakan riwayat dari Bukhari, Ahmad, dan Abu Uwanah itu menceritakan bahwa suatu ketika kepada Nabi dihidangkan semangkuk roti yang dimasak dengan daging. Rasulullah lantas menggigit lengan kambing pada bagian yang paling digemarinya dan berujar, “Aku adalah pemimpin manusia pada hari kiamat.” Kata-kata ini diucapkan Nabi sebanyak dua kali yang ternyata dimaksudkan untuk memancing pertanyaan dari para sahabat kenapa hal itu bisa terjadi. Nabi yang mulia itu lalu bercerita bahwa ia datang ke Arsyi, lalu bersujud di hadapan Allah dan Allah menempatkan dirinya pada tempat yang belum pernah ditempati siapa pun sebelumnya dan tak akan ditempati siapa pun sesudahnya.

Kemudian Nabi bertanya mengenai umatnya dan Allah pun berfirman, “Wahai Muhammad masukkan umatmu yang tidak dihisab lewat pintu sebelah kanan. Mereka bebas masuk pintu-pintu lainnya.” Kemudian Nabi pun bersabda, “Demi Muhmmad yang jiwanya ada ditangan-Nya, jarak antara kedua panel daun pintu surga adalah seperti Mekah dan Hajar atau Hajar dan Mekah.”

Hadits ini menjadi pijakan kuat bagi informasi mengenai luas pintu surga yang gaib bagi kita itu. Jarak antara Mekah dan Hajar sendiri diperkirakan berjarak 1160 km. Sedangkan dalam redaksi lain yang juga diyakini keshahihannya, jarak pintu surga adalah seperti Mekah dan Basrah, yakni 1250 km.

Di luar penjelasan ini terdapat beberapa hadits yang dianggap lebih lemah semisal hadits riwayat Ahmad dalam Musnad-nya yang ia dengar dari Al-Jariri yang berkata bahwa Nabi saw bersabda, “Jarak antara dua daun pintu surga adalah empat puluh tahun. Pada suatu hari, ia penuh sesak.” Sementara itu, hadits lain ada yang menyebut luas antara dua daun pintu surga adalah tujuh puluh tahun perjalanan. Waallahu A’lam.

Mengenai ciri-ciri pintu surga didapat penjelasan dari Walid bin Muslim bahwa pintu-pintu surga itu dapat dilihat oleh manusia. Bagian luar pintu-pintu surga itu dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luar. Menurutnya, pintu surga itu dapat berbicara dan orang dapat berbicara dengannya. Pintu-pintu surga juga memahami perkataan seperti, “Bukalah atau tutuplah.”

Ciri pintu surga yang lain adalah memiliki rantai sebagaimana diberitakan Anas bin Malik. Ia menyebut bahwa Nabi pernah berkata, beliaulah yang pertama kali memegang rantai pintu surga dan itu merupakan kebanggaan tinggi yang tak ada kebanggaan lain melebihi itu. Ibnu Uyainah juga menyebut, sebagaimana diriwayatkan Imam Tirmidzi bahwa Nabi saw menyebut rantai itu dipegang beliau dan kemudian digerak-gerakkannya. Demikian sebagaimana ditulis Ibnu a-Qayyim Al-Jauziyyah dalam Tamasya ke Surga.

Selanjutnya ciri pintu surga dianggap bersesuaian dengan keadaan surga yang bertingkat-tingkat. Jadi surga yang lebih tinggi memiliki pintu yang lebih luas dibanding tingkatan surga yang lebih rendah. Secara logis juga diyakini, jika luas surga bermacam-macam maka luas pintunya juga bermacam-macam. Waallahu a’lamu bishawab.

(Petikan dan rujukan dari laman Majalah-Hidayah )
Bismillah
Assalamualaiikum, terbaca penulisan imam muda Asyraf di laman Berita Harian online dengan tajuk " Pengorbanan Ibu Bapa Yang Tidak Ternilai"
Alangkah beruntung nya kita jika kedua ibu bapa kita masih hidup,bagaimana perasaan jika meraka tiada?Pernah kah kita terfikir,Sejauh mana pengorbanan ibu bapa kita? diharap artikel yang dikongsikan disini memberi seribu erti untuk kita.. Insyaallah.


Anak mesti taat perintah selagi tidak bertentangan dengan agama

KASIH sayang anugerah Allah SWT kepada makhluk-Nya untuk mereka hidup harmoni dan berkongsi rasa cinta serta belas kasihan dalam perjalanan singkat yang dinamakan kehidupan. 
Begitu indah kasih sayang Allah SWT kepada setiap hamba-Nya dengan mengurniakan insan yang setia berdamping sejak awal usia kandungan lagi. Ditetapkan untuk setiap manusia itu hidup selamat dalam rahim kira-kira sembilan bulan sepuluh hari. 

Allah SWT berfirman yang bermaksud: “Dan Kami telah menasihati manusia supaya berlaku baik kepada kedua-dua orang tuanya ketika mana ibunya telah mengandungkannya dalam keadaan yang teramat berat keperitannya dan (mengarahnya) untuk memutuskan penyusuan setelah (bayi) berumur dua tahun, maka syukurlah kamu kepada-Ku dan seterusnya kepada kedua-dua ibu bapamu dan kepada-Ku kamu akan kembali.” (Surah Luqman, ayat 14)

Pada usia kandungan itu jugalah kita sebagai manusia bergantung harap kepadanya atas nama kehidupan, kerana nyawa kita bersama nyawanya dan setiap darah yang mengalir dalam tubuhnya membolehkan kita hidup selesa, selamat, tenang, harmoni dan tiada sebarang gangguan. 

Begitu mulianya pendamping setia kita iaitu ibu. Apabila menyebut mengenai erti kasih sayang seseorang ibu, maka terbayang dalam lipatan pemikiran kasih sayang yang tiada nilainya sejak kita dalam kandungan sehinggalah dewasa.

Tahukah kita ketaatan kepada ibu besar tuntutannya seperti firman Allah yang bermaksud: “Dan Tuhanmu telah mewajibkan supaya tidak menyembah selain dari-Nya dan berlaku baik kepada ibu bapa.” (Surah al-Isra’, ayat 23) 

Allah SWT meletakkan kewajipan mentaati ibu bapa selepas kewajipan mentauhidkan-Nya. Al-Quran juga menceritakan pengorbanan seseorang ibu semasa mengandungkan anaknya. 
Allah SWT berfirman yang bermaksud: “Dan Kami telah menasihati manusia supaya berlaku baik kepada kedua-dua orang tuanya ketika mana ibunya telah mengandungkannya dalam keadaan yang teramat berat keperitannya dan (mengarahnya) untuk memutuskan penyusuan setelah (bayi) berumur dua tahun, maka syukurlah kamu kepada-Ku dan seterusnya kepada kedua-dua ibu bapamu dan kepada-Ku kamu akan kembali.” (Surah Luqman, ayat 14) 

Apabila melihat realiti yang berlaku dewasa ini, kita dapati anak semakin kurang memberi tanggungjawab serius terhadap hak penjagaan kedua-dua ibu bapa mereka. Betullah kata-kata, seorang ibu mampu menjaga 10 anak, tetapi 10 anak belum tentu mampu menjaga seorang ibu. 

Tidak keterlaluan untuk saya nyatakan, semakin ramai dalam kalangan kita yang berani menderhaka kepada ibu bapa sama ada dengan menengking, marah atau tidak ambil peduli langsung kebajikan kedua-dua ibu bapa mereka. 

Firman Allah SWT yang bermaksud: “Janganlah kamu berkata kepada keduanya (ibu bapa) dengan perkataan ‘ah’ dan janganlah pula kamu mengherdik mereka. Bercakaplah kepada mereka dengan perkataan yang mulia.” (Surah al-Isra’, ayat 23)

Berdasarkan firman Allah SWT ini, ulama mengeluarkan hukum hanya dengan menyebut perkataan ‘ah’ dan seumpamanya kepada kedua-dua ibu bapa boleh menyebabkan seseorang itu terjerumus dalam dosa penderhakaan.

Sesuatu yang lebih menyayat hati apabila ada anak yang sanggup berlaku ganas dengan memukul malah sanggup membunuh ibu bapa sendiri atas hasutan nafsu dan syaitan. Di manakah ihsan kita?

Sememangnya tanggungjawab menjaga ibu bapa adalah satu tugas yang berat, namun apakah sama taraf bandingnya dengan keperitan mereka lalui ketika mengandungkan, melahirkan seterusnya mendidik kita dengan didikan yang sempurna?

Direkodkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Sahihnya, Nabi SAW didatangi seorang lelaki untuk bersama berjihad dalam peperangan. Lalu Nabi SAW bertanya: Adakah kamu sudah meminta izin daripada kedua-dua ibu bapamu? Lantas lelaki itu menjawab: Belum. Maka Nabi SAW menyuruhnya untuk pulang meminta izin daripada kedua-duanya dan jika tidak dibenarkan untuk turut sama berperang maka Nabi SAW menyuruhnya untuk kekal berbakti kepada keduanya.

Berlaku baiklah kepada kedua-duanya walaupun sesibuk manapun kita. Jika ada perselisihan, maka berbincanglah dengan baik dan mendahulukan kehendak ibu bapa itu lebih utama berbanding kehendak diri dan keluarga kita.

Janganlah kerana kepentingan isteri dan anak, kita melupakan tanggungjawab penjagaan kedua ibu bapa. Turutilah kata mereka selagi tidak bercanggah dengan syariat Islam. Jika bercanggah dengan syariat maka tolaklah dengan baik dan janganlah menderhaka kepada kedua-duanya. 

Firman Allah SWT yang bermaksud: “Dan apabila mereka menyuruh engkau menyekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak engkau ketahui maha janganlah engkau taati mereka berdua dan bergaullah dengan mereka berdua di dunia secara baik.

Ibnu Kathir menukilkan kisah seorang sahabat, Saad bin Abi Waqqas yang menolak permintaan ibunya untuk meninggalkan agama Islam sehinggakan ibunya mengugut Saad bin Abi Waqqas untuk tidak makan dan minum sehinggalah beliau meninggalkan Islam. 

Maka turunlah perintah Allah SWT yang bermaksud: “Sesungguhnya Kami telah mewasiatkan kepada manusia untuk berlaku baik kepada kedua-dua ibu bapa. Jika mereka menyuruh kamu mesyirikkan-Ku dengan apa yang engkau tidak ketahui maka janganlah kamu mentaatinya.” (Surah al-‘Ankabut, ayat 8).


Bismillah


Assalamualaiikum,Marah? sudah tentu menyakitkan, ramai jugak dikalangan kita mungkin bersifat lebih extream marahnya atau dipanggil "Panas Baran".Kadang kala,sistuasi seperti itu berlaku juga kepada saya.Jadi cara terbaik untuk menghilankanya bagaimana? demi memanfaatkan dunia bloging saya ingin berkongsi sedikit tips yang dipetika dari laman Harian Islam dan juga berterima kasih kepada seorang rakan difacebook kerana memberitahu hal ini.

Sifat pemarah itu berasal daripada sifat sombong (ego). Lagi besar ego seseorang lagi besar marahnya.

Ini berkaitan pula dengan kedudukan seseorang. Kalau tinggi kedudukan seseorang, besar pangkatnya, banyak hartanya, ramai pengikutnya, maka akan tinggilah ego seseorang dan akan menjadi-jadilah pemarahnya.Sebaliknya jikalau kurang segalanya, maka akan kuranglah egonya dan akan kurang jugalah pemarahnya.

Sifat pemarah ini ada pada hampir semua orang seperti juga hasad dengki. Kenapa kita mesti marah ? Telah berkata Mujahid di dalam sebuah bait syair “Takdir Allah telah putus dan putusan Allah telah terjadi. Istirehatkan hati dari kata-kata “Barangkali” dan “Kalau”.

Setiap kelemahan dan kesilapan manusia adalah ujian untuk kita. Allah mahu melihat bagaimana sabarnya kita dan malunya kita kepada Allah dengan mengucapkan ” Inna lillahi wainna lillahi raji’un “.

BAGAIMANA MENGHILANGKAN RASA MARAH

Pernah ditanya Ahnaf bin Qais, bagaimana dia boleh mengekalkan sifatnya yang lemah lembut itu. Ahnaf menjawab : ” Aku belajar dengan Qais bin Asim iaitu pada satu hari sedang berehat-rehat, masuk hambanya membawa panggang besi yang berisi daging panggang yang masih panas.

Belum sempat daging itu diletakkan dihadapan Qias, tanpa sengaja besi pemanggang yang panas itu jatuh terkena anak kecil Qais. Menjerit-jeritlah si anak, kesakitan dan kepanasan sehingga meninggal dunia. Qais yang melihat peristiwa itu dengan tenang berkata kepada hambanya yang sedang pucat dan menunggu hukuman

” Aku bukan sahaja tidak marah kepada kamu tetapi muali hari ini aku akan membebaskan kamu.” Begitulah sopan santunn! ya dan pemaafnya Qais bin Asim” Kata Ahnaf mengakhiri ceritanya.

Bukannya Qais tidak menyayangi anaknya tetapi Qais memandang segala kejadian itu adalah dari Allah. Jikalau dia bertindak memarahi hambanya, maka hakikatnya dia memarahi Allah. Dia redha dengan ujian yang ditimpakan kepadanya. Tidak ada di dalam kamus hidupnya perkataan kalau atau barangkali.

Hatinya tidak terasa dia ” tuan” kerana apa yang ada padanya dirasakan amanah dari Allah. Yang bila sampai ketikanya Allah akan ambil kembali. Kita mesti ubati hati kita. Kita kita mesti membuangkan rasa rasa “ketuanan” kita yang menyebabkan kita menjadi pemarah dengan melakukan mujahadatun nafsi. Di antara langkah yang perlu kita hadapi untuk menghilangkan marah ialah :

Mula-mula kita perlu malu dengan Allah s. w. t akan segala tindak-tanduk kita. Allah memerhatikan segala perlakuan dan sikap biadab kita.
Bila datang rasa hendak marah, ingatlah kita ini hanyalah manus! ia yang hina.
Banyakkan berdiam diri dan berdoa kepada Allah agar Allah selamatkan kita daripada sifat marah.
Hendaklah ingat kesan daripada sifat marah itu mungkin akan membawa kepada permusuhan dan pembalasan dendam dari orang yang anda marahi.
Cuba bayangkan betapa buruknya rupa kita ketika kita sedang marah. Ianya lebih buruk daripada perlakuan seekor binatang jikalau anda di dalam keadaan yang marah.
Apabila datang marah, banyakkan baca Ta’awwuz ( A’uzubillahi minas Syaitanirrajim ) kerana marah itu datangnya daripada syaitan.
Apabila marah sedang memuncak, ambil wudhu keranawudhu dapat menenangkan api kemarahan yang sedang membara.
Jikalau tidak boleh hilang marah dengan hal tersebut di atas, hendaklah tidur. Kerana ianya akan meredakan perasaan marah apabila bangkit daripada tidur
Tauhid kita perlu tepat. Setiap sesuatu itu datangnya dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Kenapa kita perlu marah.

DOA MENGHILANGKAN RASA MARAH

Kalau kita bersalah, kita tidak suka orang memarahi kita. Maka begitulah orang lain yang melakukan kesilapan, juga tidak suka dimarahi. Tegurlah dengan lemah lembut dan kasih sayang. Satu cara lagi, apabila datangnya marah, sedangkan anda berdiri, maka duduklah, sekiranya duduk, maka bersandarlah, Insha Allah kemarahan akan mulai reda.

Dengan cara demikian, seperti ulasan saudara fansuri, keegoan akan berkurangan. Tetapi apa yang berlaku, apabila naik marah, yang bersandar akan mula menetapkan duduknya dan seterusnya berdiri, maka kemarahan sudah tidak dapat dikawal.

Marah ertinya gerakan nafsu diri, seketika meluap darah jantung dari suruhan syahwat utk mempertahankan diri dan utk melepaskan dendam. Cuma kemarahan itu tidak boleh timbul kalau tidak pada tempat dan waktunya. Bila kemarahan telah timbul tidak ditahan dgn fikiran dan akal sebelum! dia menjalar, tidak ubahnya dia dengan api yg membakar, darah naik laksana wap, memenuhi otak, sehingga gelap menyelubungi hati sehingga tidak sanggup berfikir.

Menyelimuti seluruh urat saraf, penglihatan nampak kecil bila memandang orang, ketika itu pertimbangan hilang, akal tertutup, fikir tersentak, angan-angan habis. Orang yg marah adalah laksana gua batu yg terbakar api terkurung di dalamnya dan angin masuk juga mengipasnya sehinggalah terkumpullah di dalam gua asap dan wap yang menambahkan panas..

Kedengaran api memakan kelilingnya habis menjadi bara Meskipun diusahakan menyiram.. maka air penyiram itu akhirnya akan menjadi minyak tanah menambah kerasnya api. Berbanyak-banyakkanlah beristighfar itulah senjata orang-orang mukmin.

26/01/2013




Bismillah,


Assalamualaiikum.
Ayat Kursi, Terlalu banyak kelebihan Ayat kursi,Sememangnya Fadhilat Al-quran sangat besar dan penuh Hikmah.


Maksudnya:
Allah,tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia,Yang Tetap hidup,Yang Kekal selama-lamanya mentadbirkan (sekalian makhlukNya). 
Yang tidak mengantuk usahkan tidur. Yang memiliki segala yangada di langit dan yang ada di bumi.Tiada sesiapa yang dapat memberi syafaat (pertolongan) di sisiNyamelainkan dengan izinNya.yang mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yangada di belakang mereka, sedang mereka tidak mengetahui sesuatu pun dari (kandungan) ilmu Allah melainkan apa yang Allahkehendaki (memberitahu kepadanya). 
Luasnya Kursi Allah (ilmuNya dan kekuasaanNya) meliputi langit danbumi; dan tiadalah menjadi keberatan kepada Allah menjaga sertamemelihara keduanya. Dan Dia lah Yang Maha Tinggi (darjat kemuliaanNya), lagi Maha Besar (kekuasaanNya)

Dengan Video


Diantara kelebihan kelebihan Ayat Kursi:
1-Barang siapa membaca ayat Al-Kursi apabila berbaring di tempat tidurnya, Allah SWT mewakilkan dua orang Malaikat memeliharanya hingga subuh.

2-Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir setiap sembahyang Fardhu, dia akan berada dlm lindungan Allah SWT hingga sembahyang yang lain.

3-Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir tiap sembahyang, tidak menegah akan dia daripada masuk syurga kecuali maut dan barang siapa membacanya ketika hendak tidur, Allah SWT memelihara akan dia ke atas rumahnya, rumah jirannya dan ahli rumah-rumah di sekitarnya.

4-Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir tiap2 sembahyang fardhu, Allah SWT menganugerahkan dia setiap hati orang yg bersyukur, setiap perbuatan orang yg benar, pahala nabi2 serta Allah melimpahkan padanya rahmat.

5-Barang siapa membaca ayat Al-Kursi sebelum keluar rumahnya, maka Allah SWT mengutuskan 70,000 Malaikat kepadanya – mereka semua memohon keampunan dan mendoakan baginya.

6-Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir sembahyang Allah SWT akan mengendalikan pengambilan rohnya dan dia adalah seperti orang yang berperang bersama Nabi Allah sehingga mati syahid.

7-Barang siapa yang membaca ayat Al-Kursi ketika dalam kesempitan nescaya Allah SWT berkenan memberi pertolongan kepadanya.

Terima Kasih kepada Saudara Aku si Jebat kerana berkongsi artikel yang bermanfaat buat kita semua...
Bismillah.
Assalamualaiikum, selamat menyambut maulidurrasul buat semua umat islam diseluruh dunia.
Syurga,bercerita mengenai syurga,pasti ramai diantara kita yang teringin dan berhajat untuk sampai kesana.Tapi,layak kah kita sebagai manusia yang selalu leka dan enggan mematuhi kehendak yang Maha Esa?

Terbayang Suasana syurga yang begitu indah,apakah amalan kita untuk sampai kesana? Pasti hanya orang yang beriman sahaja hadir menuju kesana.Diharap post yang bertajuk "4 golongan yang dirindui syurga" membuatkan saya dan pembaca pembaca sama sama me motivasikan diri supaya lebih bahagia dalam kehidupan.


4 golongan yang dirindui syurga:
1. Orang yang membaca Al-quraan
2. Orang yang memelihara lisan dari ucapan yang keji dan mungkar
3. Orang yang memberi makan yang sedang kelaparan
4. Orang-orang yang berpuasa di bulan ramadhan

Golongan pertama adalah golongan manusia yang suka membaca dan mempelajari Al Quran. Sebagaimana nasihati Nabi yang mengamanahkan umatnya untuk belajar tanpa peduli umur dari lahir hingga masuk ke liang lahat.

Golongan kedua, adalah golongan orang yang boleh menjaga lisannya sebagaimana hadith Nabi yang berbunyi “Akan selamatlah manusia yang boleh menjaga mulutnya”. Lisan dapat menyebabkan orang saling bemusuhan dan bercerai berai. Maka jagalah pertuturan lisan untuk kebaikan bersama.

Golongan ketiga yang dirindukan surga Allah adalah golongan orang yang gemar memberi makan orang yang lapar dan berpuasa. Ibadah puasa mengajarkan manusia untuk mengerti dan memahami apa yang dirasakan saudaranya. Memberikan makan kepada orang yg berbuka puasa juga berpahala sangat besar. Sebagaimana Hadits Beliau SAW "Orang yang memberi makan orang yang berpuasa akan memperoleh pahala seperti orang yang puasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang itu."

Golongan keempat yang dirindukan Allah adalah golongan orang-orang yang ikhlas berpuasa di bulan Ramadhan. Sebuah riwayat menceritakan betapa para sahabat Nabi merasa sedih dan menangis kerana akan ditinggal bulan Ramadhan. Para sahabat tersebut berdoa agar bulan Ramadhan dapat berlangsung sepanjang tahun. Dengan riwayat tersebut dapat disimpulkan betapa besarnya berkah dan anugrah yang ditawarkan Allah melalui bulan Ramadhan.
Jika artikel ini menarik,kongsikan kepada rakan rakan anda dengan menggunakan button share dibawah ini.Untuk dapatkan info info lebih lagi dari blog bukharimalek.my,kini anda boleh Follow blog ini melalui bahagian sidebar disebelah kanan.semoga artikel ini memberi kebaikan untuk kita bersama.

Wallahu'alam.