01/02/2013

Jangan Pernah Berhenti Berharap

Posted on 2/01/2013 in ,


Dari Anas bin Malik rodhiallahu ‘anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman, “Wahai anak Adam, sepanjang engkau memohon kepada-Ku dan berharap kepada-Ku akan Aku ampuni apa yang telah kamu lakukan.
Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika dosa-dosamu setinggi awan di langit kemudian engkau meminta ampunan kepada-Ku akan Aku ampuni. Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau datang membawa kesalahan sebesar dunia, kemudian engkau datang kepada-Ku tanpa menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun, pasti Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sebesar itu pula.” (HR.At-Tirmidzi, ia berkata, ”hadits ini hasan shahih)



Istilah harapan hanya berlaku bagi penantian sesuatu yang disenangi, yaitu didahului dengan adanya sebab-sebab internal. Kemudian darinya diteruskan dengan usaha seorang hamba. Sedangkan hal-hal yang tidak diusahakannya, adalah kurnia dari Allahsubhanahu wa ta’ala.
Harapan itu adalah sesuatu yang terpuji, karena harapan dapat mendorong kepada amal. Sedangkan putus asa adalah sesuatu yang tercela, kerana ia mengalihkan dari amal. Orang yang tahu bahwa tanah yang diolahnya tandus, air di sekitarnya tidak mengalir sehingga benih tidak tumbuh, lalu dia justru meninggalkan tanah itu dan tidak mahu bersusah payah untuk mencari penggantinya.
Keadaan seperti ini telah disinggung Allah subhanahu wa ta’ala dalam firmanNya Surat Al Hijr ayat 55, yang berbunyi
فَلا تَكُنْ مِنَ الْقَانِطِينَ
"maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa"
Kemudian disebutkan pada ayat selanjutnya bahwa orang-orang yang tersesat adalah mereka yang berputus asa dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala,
قَالَ وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلا الضَّالُّونَ
Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat”.
Antara Takut dan Berharap
Rasa takut adalah hal yang manusiawi. Setiap individu pasti pernah merasakan ketakutan. Baik dia wujudkan dengan hal-hal yang nyata, ataupun hanya tersimpan dalam perasaan saja. Ketika seseorang khawatir akan terjadi sesuatu pada dirinya, dia sedikit banyak telah merasakan ketakutan pada dirinya. Begitu pula dengan pengharapan. Hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa setiap orang pernah mengalaminya. Kedua sifat inilah yang ditunjukkan Allah subhanahu wa ta’ala di dalam firmanNya, sebagai satu tanda adanya kekuasaaan Allah yang maha luas. Dia berfirman,
وَمِنْ آيَاتِهِ يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan (QS. Ar Ruum : 24)
Kedua sifat ini harus seimbang antara satu dengan yang lain. Jikalau berlebihan dalam rasa takut, maka seseorang akan menjadi kaku. Berbeza halnya jika dia berlebihan dalam berharap, maka hanya angan kosong sahaja yang akan didapatkan.
Perwujudan nyata yang benar dari kedua sifat ini adalah ketika seorang hamba berdoa kepada ALLAH S.W.T. Dia harus memadukan antara rasa takut dan harap. Sehingga Allahsubhanahu wa ta’ala semakin dekat dan berkenan untuk mengabulkan permohonannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al A’rof : 56)
Allah S.W.T,tempat Berharap
Suatu ketika Al Hasan bin Ali bin Abi Tholib ditimpa krisis keuangan. Dia mendapatkan gaji setiap tahun sebanyak seratus ribu. Pada suatu malam Muawiyah tidak memberikan bayaran itu kepadanya, maka dia pun menderita akibat krisis kewangan tersebut. Al hasan berkata,”Saya meminta tinta kepada salah seorang sahabat untuk menulis surat kepada Muawiyah tentang bahagianku, namun saya tidak melakukannya.”
Tiba-tiba dalam tidurku saya melihat Rasulullah berkata,”Bagaimana keadaanmu wahai Hasan?”
Saya katakan,”Saya baik-baik saja wahai saudaraku.”Saya kemudian melaporkan tentang ditundanya bayaran yang seharusnya diberikan kepada saya. Lalu Rasulullah bersabda,”Apakah engkau memanggil seseorang agar kamu bisa menulis permohonan kepada makhluk sepertimu dan kamu peringatkan bayaranmu?”
Saya katakan,”Ya, wahai Rasulullah, lalu apa yang sebaiknya saya lakukan?”
Rasulullah bersabda,”Katakan doa ini :
اَللّهُمَّ اقْذِفْ فِيْ قَلْبِي رَجَاءَكَ، وَاقْطَعْ رَجَائِي عَمَّنْ سِوَاكَ، حَتَّى لَا أَرْجُو أَحَدًا غَيْرَكَاَللّهُمَّ وَمَا ضَعُفَتْ عَنْهُ قُوَّتِي، وَ قَصُرَ عَنْهُ عَمَلِي، وَ لَمْ تَنْتَهِ إِلَيْهِ رَغْبَتِي، وَ لَمْ تَبْلُغْهُ مَسْأَلَتِي، وَ لَمْ يَجْرِ عَلَى لِسَانِي، مِمَّا أَعْطَيْتَ أَحَدًا مِنَ اْلأَوَّلِيْنَ وَ اْلآخِرِيْنَ مِنَ اْليَقِيْنَ، فَخَصَّنِي بِهِ يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ
Ya Allah tanamkan dalam dadaku harapan untukMu, dan putuslah harapanku kepada selainMu hingga tidak saya gantungkan harapanku kepada selainMu. Ya Allah tanamkanlah dalam dadaku yang saya tidak kuat melakukannya dan saya tidak dapat menanggungnya dan keinginan yang tidak saya sampaikan kepadanya, dan belum pernah terlontar pada lidahku apa yang Engkau berikan kepada orang-orang terdahulu dan belakangan dari keyakinan, maka berikanlah itu kepadaku wahai Rabb semesta alam.
Al Hasan berkata,”Demi Allah belum seminggu saya mengucapkan doa ini, ternyata Muawiyah mengirim kepada saya wang sebanyak sejuta lima ratus ribu. Lalu saya katakan,”Segala puji bagi Allah yang tidak pernah melupakan orang yang mengingatNya dan tidak pernah mengecewakan orang yang memintaNya.”
Kembali saya melihat Rasulullah dalam mimpiku. Dia berkata,”Bagaimana keadaanmu wahai Hasan?”
Saya jawab,”Baik-baik saja wahai Rasulullah!” lalu saya beritahukan kepadanya apa yang telah terjadi.Rasulullah berkata,”Wahai anakku, demikianlah orang yang menggantungkan harapannya kepada Yang Maha Pencipta dan tidak pernah menggantungkan harapannya kepada makhlukNya.”


Teruslah Berharap!

Siapakah yang tidak mempunyai impian? Tentu setiap orang akan menjawab saya punya. Walaupun, jawapan itu ada yang diucapkan secara lisan ataupun tidak. Akan tetapi hati mereka tidak boleh ditipu bahwa ada sebuah impian yang ada pada dirinya. Bahkan, anak kecil pun mempunyai sebuah keinginan yang menjadi impian mereka. Sedangkan impian terbesar seorang Muslim adalah ketika dimasukkan ke dalam Jannah Allah subhanahu wa ta’ala dan dapat memandang wajahNya. Karena inilah nikmat paling agung dari Rabb‘azza wa jalla kepada para hambaNya yang bertakwa.
Harapan adalah sebuah refleksi dari sebuah impian yang muncul di dalam jiwa. Jika seseorang sudah memiliki impian, maka harapanlah yang akan terjadi setelahnya.
Islam tidak melarang pengikutnya memiliki sebuah impian. Yang dilarang adalah berangan-angan kosong tanpa ada usaha di dalamnya. Untuk itu, kita sebagai seorang Muslim harus terus berharap dan jangan berhenti. Agar impian kita nantinya dapat terwujud di kemudian hari. Amin...
Lihatlah ayat tentang janji Allah untuk hambaNya yang memohon padaNya :
Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina”. (QS: Al-Mu’min 40:60)
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran (Al-Baqarah 2: 186)''

0 comments:

Post a Comment